Pasar bata ringan di Indonesia saat ini menunjukkan potensi besar dengan banyaknya pemain sekitar 14 merek. Salah satunya PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES). Pabrikan bata ringan Blesscon dan Superiore Block yang telah eksis sejak 2011, memiliki lima pabrik tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan total kapasitas produksi 5,6 juta m3 per tahun.
BLES merupakan manufaktur bata ringan berbasis tenologi Autaclaved Aerated Concrete (AAC). Menekankan produksi berkelanjutan dengan menggunakan bahan baku yang tidak merusak alam, seperti pasir silica, semen, kapur, air dan aluminium pasta, serta menggunakan FABA (Fly Ash Bottom Ash) untuk mengurangi limbah PLTU.
Selain itu, pada 2025 BLES mulai menggunakan listrik tenaga surya sekaligus menjadi perusahaan bata ringan pertama yang mengadopsi penggunaan solar paner dalam kegiatan produksi. Telah ada dua pabrik yang menggunakan solar panel yaitu di Lamongan dan Sragen.
Dalam hal rantai logistik pengiriman produk, BLES, mengoperasikan lebih dari 600 unit kendaraan. Sekitar 180 unit armadanya menggunakan Mitsubhisi Fuso (170 unit Canter dan 10 unit Fighter). Indra Wijaya, Manager Operasional Divisi Trucking BLES mengatakan, pihaknya memiliki alasan khusus penggunaan Mitsubhisi Fuso.
“Tentunya karena kualitas kendaraan bagus serta didukung jaringan diler dan bengkel yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di area distribusi kami di Jawa Timur dan Jawa Tengah,”terangnya saat menerima media visit di pabrik Lamongan yang diprakasai PT Krama Yudha Berlian Motors (KTB) selaku distributor resmi Mitsubhisi Fuso (10/12).
Ia menambahkan, pemilihan truk juga didasarkan pada daya angkut, ketahanan dan layanan purna jual. Pihaknya mengapresiasi layanan purnal jual PT Murni Berlian Motor sebagai mitra diler yang inovatif dalam memberikan program after sales yang berbeda dengan diler-diler lainnya.
“Untuk monitoring armada kami tidak pakai tools khusus hanya menggunakan GPS yang akan dimonitoring oleh tim kami. Masing-masing tim terdiri dari 3 orang dari masing-masing plant/ pabrik,” ucapnya.
Terdapar dua hal yang dimonitor, yakni mematikan kondisi pengemudi terlebih dahulu selama proses pengiriman. Kemudian, mengetahui posisi pengiriman karena ada target ketepatan waktu yang harus dipenuhi. “Target yang ingin kami capai, yang utama adalah zero accident dan juga lead time pengiriman,” pungkasnya.



















