Lalu lintas peti kemas di pelabuhan-pelabuhan Indonesia menunjukkan geliat. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, seluruh terminal yang dikelola PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat arus 13,34 juta TEUs. Angka ini naik hampir 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sinyal bahwa aktivitas produksi dan distribusi barang kembali menguat.
Dari total tersebut, peti kemas domestik mendominasi dengan 8,94 juta TEUs, sementara peti kemas internasional mencapai 4,40 juta TEUs. Kenaikan ini bukan sekadar statistik logistik. Ia mencerminkan pergerakan ekonomi di berbagai daerah, dari proyek properti hingga industri tambang.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menyebut pertumbuhan arus peti kemas tahun 2025 mencapai 6,87 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka 12,48 juta TEUs. Menurut dia, meningkatnya permintaan pengiriman barang menjadi pendorong utama.
“Kunjungan kapal di sejumlah terminal juga naik. Ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas komoditas di masing-masing daerah,” ujar Widyaswendra dalam siaran pers (15/1)Ia mencontohkan Terminal Petikemas (TPK) Jambi yang mencatat lonjakan arus seiring meningkatnya permintaan semen untuk pembangunan properti. Di TPK Ternate, pertumbuhan didorong pengiriman logistik tambang ke Halmahera.
Sementara itu, TPK Merauke ikut terdongkrak oleh proyek-proyek strategis nasional di Provinsi Papua Selatan.Pertumbuhan juga terasa kuat di jalur internasional. Arus peti kemas internasional meningkat 10,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Terminal Teluk Lamong menjadi salah satu motor pertumbuhan dengan lonjakan sekitar 25 persen, antara lain karena penambahan lima layanan pelayaran baru.Selain itu, pengiriman barang ke Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan China melalui TPK Semarang turut menyumbang kenaikan arus internasional.



















