Dalam satu dekade terakhir, angkutan barang PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI meningkat 74,2 persen, dari 40.060.714 ton pada 2017 menjadi 69.791.691 ton pada 2025. Adapun sepanjang triwulan I-2026, KAI tercatat melayani angkutan barang sebesar 14.948.442 ton.
Data tersebut menegaskan peran vital kereta api sebagai urat nadi distribusi yang menghubungkan kawasan produksi dengan pusat konsumsi, sekaligus memperlihatkan meningkatnya kebutuhan distribusi berbasis rel seiring aktivitas ekonomi nasional. Vice President (VP) Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa peningkatan volume angkutan barang menunjukkan kebutuhan penguatan sistem logistik berbasis rel.
“Pertumbuhan angkutan barang yang konsisten menunjukkan adanya kebutuhan distribusi dalam skala besar dengan kepastian waktu. Hal ini menjadi dasar penting untuk mendorong pengembangan infrastruktur perkeretaapian yang lebih luas dan terintegrasi,” ujarnya dalam siaran pers (27/4).
Penguatan sistem logistik berbasis rel dinilai krusial karena mampu mengurangi kemacetan serta memperpanjang usia pakai jalan raya. Sebab, kereta api memiliki kapasitas angkutnya yang besar. Sebagai gambaran, satu rangkaian kereta angkutan batu bara di Sumatera bagian selatan mampu membawa 3.000 ton dalam satu perjalanan.
Volume tersebut setara dengan sekitar 120 truk di jalan raya. Contoh lainnya, satu gerbong dapat mengangkut 50–70 ton barang. Dengan demikian, satu rangkaian yang terdiri atas puluhan gerbong dapat mengangkut hingga sekitar 4.200 ton dalam sekali perjalanan
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa angkutan logistik berbasis rel efektif mengurai kepadatan lalu lintas sekaligus menekan beban infrastruktur jalan.
Urgensi penguatan logistik berbasis rel
Penguatan sistem logistik berbasis rel juga dinilai dapat menekan biaya logistik nasional.Saat ini, biaya logistik Indonesia berada di kisaran 15-20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara standar global berada di kisaran 7–8 persen. Sekitar 60 persen aktivitas logistik nasional berada di Pulau Jawa dengan nilai biaya logistik diperkirakan mencapai Rp 2.400–2.500 triliun per tahun.
Oleh karena itu, penguatan infrastruktur perkeretaapian di wilayah dengan pergerakan tinggi menjadi salah satu langkah yang dapat mendorong efisiensi distribusi dalam skala besar. Layanan angkutan barang kereta api juga memperkuat sistem distribusi berkat ketepatan waktu operasional.
Pada triwulan I-2026, tingkat ketepatan waktu angkutan barang tercatat 95,97 persen untuk keberangkatan dan 91,77 persen untuk kedatangan. Baca juga: Ketepatan Waktu Kereta Naik, KAI Catat OTP di Atas 90 Persen Data tersebut menunjukkan bahwa distribusi berbasis rel memiliki pola operasi yang terukur dan dapat diandalkan.
Anne menambahkan, penguatan infrastruktur perkeretaapian akan memberikan dampak langsung terhadap distribusi barang di berbagai wilayah. “Pengembangan jaringan dan peningkatan kapasitas angkutan berbasis rel akan membuka peluang distribusi yang lebih merata. Hal ini akan mendukung kelancaran pasokan dan berkontribusi pada stabilitas harga di masyarakat,” tuturnya.
Dengan tren pertumbuhan yang terus meningkat dan kapasitas angkut yang besar, penguatan infrastruktur perkeretaapian menjadi langkah strategis dalam membangun sistem logistik nasional yang lebih efisien. “Arah ini diharapkan mampu memperkuat konektivitas distribusi, menekan biaya logistik, serta mendukung daya saing ekonomi Indonesia,” tegas Anne.


















