Tim Bestari Solutions resmi meraih predikat Global Winners dalam ajang internasional “ISCEA Global Supply Chain Case Competition 2025”, setelah melalui persaingan ketat mulai dari tahap Country Level, berlanjut ke Regional APAC, hingga akhirnya mengungguli para finalis-finalis terbaik dunia di Global Level. Prestasi ini menegaskan keunggulan talenta representasi Indonesia di kancah global dan sekaligus menjadi kebanggaan bagi kawasan Asia Pasifik.
Dikutip dari siaran pers (18/12) ISCEA Global Supply Chain Case Competition 2025 sendiri merupakan kompetisi tingkat Internasional yang digelar oleh International Supply Chain Educational Alliance (ISCEA) Global untuk mencari talenta yang berbakat dalam penyelesaian masalah dalam industri Supply Chain. Pada kompetisi tahun ini, para peserta ditantang untuk menyelesaikan studi kasus kompleks yang berfokus pada dekarbonisasi rantai pasok Michelin dan harmonisasi komitmen keberlanjutan antara perusahaan dan pemasok strategisnya: ExxonMobil, Bekaert, dan Duke Energy.
Bestari Solutions tampil menonjol dengan pendekatan yang terstruktur, berbasis riset, dan relevan dengan tantangan nyata industri.Solusi mereka dibangun melalui tiga pilar inti. Pertama, Gap Analysis yang memetakan ketidaksinkronan target emisi para pemasok, mulai dari perbedaan baseline tahun, cakupan Scope 1–3, tingkat verifikasi data, hingga ambisi target dekarbonisasi.
Analisis ini mengidentifikasi lima gap utama yang berdampak langsung pada kemampuan Michelin dalam mencapai target net-zero, mulai dari baseline misalignment hingga ketidaktepatan pelaporan Scope 3.Kedua, Bestari Solutions merancang Supply Chain Sustainability Cooperation Agreement (SCSCA), sebuah kerangka kolaborasi yang menstandarisasi definisi, batas emisi, alur data, metodologi perhitungan, serta tata kelola bersama antara Michelin dan pemasoknya.
Melalui SCSCA, setiap pemasok diwajibkan menerapkan baseline yang sama, melakukan pelaporan terpadu Scope 1–3, mengikuti proses verifikasi bertahap, serta terintegrasi dalam mekanisme evaluasi berbasis KPI dan insentif kinerja. Model ini menekankan pengelolaan yang kuat, transparansi data, dan keterhubungan langsung dengan kebijakan pengadaan Michelin.
Pilar ketiga adalah pengembangan LestariAI, solusi AI yang dirancang untuk memvalidasi data emisi pemasok dan menghitung jejak karbon lintas rantai pasok menggunakan pendekatan Environmental Input–Output Analysis, Production Layer Decomposition (PLD), dan Structural Pathway Analysis.
Teknologi ini mampu mengidentifikasi emission hotspots hingga level Tier-4, meminimalisir ketergantungan pada data granular yang sering kali tidak lengkap, serta mempercepat proses validasi Product Carbon Footprint dari hitungan minggu menjadi hitungan jam. LestariAI juga menyediakan dashboard berbasis KPI untuk membantu Michelin memantau performa pemasok secara real-time.
Kombinasi antara ketepatan analisis, kekuatan governance framework, dan inovasi AI menjadi alasan kuat Bestari Solutions keluar sebagai juara global. Pendekatan mereka menunjukkan kapasitas strategis dan kedalaman pemahaman yang relevan dengan tuntutan industri saat ini. Capaian tersebut diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak talenta muda Indonesia untuk berkompetisi dan berkontribusi dalam pengembangan supply chain berkelanjutan di tingkat global.



















