PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 42,6% secara tahunan menjadi Rp1,95 triliun pada semester I/2026, meski laba bersih perseroan tertekan. Investor Relations WBSA Ravenal Arvense mengatakan pertumbuhan pendapatan tersebut menunjukkan semakin besarnya skala aktivitas dalam jaringan logistik perseroan, baik melalui penambahan pelanggan maupun peningkatan kebutuhan logistik dari pelanggan eksisting.
“Pertumbuhan tidak hanya berasal dari penambahan pelanggan baru, tetapi juga dari semakin besarnya kebutuhan logistik pelanggan eksisting yang dapat dilayani melalui beberapa segmen sekaligus,” ujar Ravenal dalam siaran pers(1/9). Berdasarkan laporan perseroan, segmen Freight Forwarding menjadi kontributor pertumbuhan terbesar dengan pendapatan Rp1,17 triliun pada semester I/2026, melonjak 78,1% dibandingkan dengan Rp655,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pendapatan segmen Land Transportation tumbuh 8,8% secara tahunan menjadi Rp648,1 miliar dari Rp595,5 miliar. Adapun pendapatan Warehousing & Storage meningkat 15,4% menjadi Rp132,8 miliar dari Rp115,1 miliar.
WBSA menjalankan bisnis melalui tiga segmen utama, yakni Transportasi Darat, Jasa Pengurusan Transportasi atau Freight Forwarding, serta Pergudangan. Layanan tersebut mencakup angkutan darat, pengurusan kargo, pergudangan, terminal logistik, aktivitas kepelabuhanan hingga pelayaran.
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum sepenuhnya diikuti peningkatan profitabilitas. Laba kotor WBSA turun 20,7% menjadi Rp139,7 miliar pada semester I/2026 dari Rp176,3 miliar pada semester I/2025. Laba bersih WBSA anjlok 95,5% menjadi Rp1,018 miliar pada semester I/2026, dari Rp22,435 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tekanan margin tersebut antara lain dipengaruhi oleh penurunan aktivitas sektor pertambangan setelah adanya penyesuaian alokasi produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kondisi tersebut berdampak terhadap volume angkutan dan meningkatkan intensitas persaingan pada layanan logistik komoditas.
Dalam kondisi tersebut, WBSA mempertahankan tingkat harga yang kompetitif untuk menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan, kontinuitas volume dalam jaringan, serta posisi perseroan di pasar. Perseroan menilai tekanan profitabilitas pada semester I/2026 lebih mencerminkan kondisi spesifik selama periode penyesuaian RKAB dan persaingan yang lebih ketat.
Dengan demikian, kinerja periode tersebut dinilai belum sepenuhnya merepresentasikan potensi profitabilitas ketika aktivitas logistik kembali lebih seimbang. “WBSA melihat adanya ruang bagi volume dan margin untuk bergerak ke tingkat yang lebih sehat apabila aktivitas produksi kembali meningkat, meskipun waktu dan besarnya penyesuaian akan tetap mengikuti kebijakan pemerintah serta perkembangan aktivitas pelanggan,” kata Ravenal.
Di sisi ekspansi, WBSA telah menyelesaikan akuisisi PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) pada 2026. Perseroan mengalokasikan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) sebesar Rp215 miliar untuk mengambil alih 99,99% saham BIL. Melalui transaksi tersebut, WBSA memperoleh pengendalian atas PT Beruang Maritim Indonesia (BMI), perusahaan operasional yang menjalankan layanan angkutan laut untuk berbagai jenis kargo, mulai dari dry bulk, liquid bulk, alat berat, kontainer hingga general cargo.
Integrasi bisnis pelayaran tersebut melengkapi kapabilitas multimoda WBSA dan memperluas jaringan perseroan untuk melayani kebutuhan logistik pelanggan melalui jalur darat dan laut. Kapabilitas marine logistics tersebut didukung jaringan lebih dari 300 kapal dan lebih dari 100 pemilik kargo dengan cakupan operasional di berbagai wilayah Indonesia.
Penambahan tersebut juga memperluas cakupan geografis dan jenis kargo yang dapat dilayani WBSA. Ke depan, perseroan akan mengoptimalkan skala jaringan dengan memperluas rute dan basis pelanggan, meningkatkan penetrasi terhadap pelanggan eksisting, mengoptimalkan kapasitas warehouse dan Inland Logistics Terminal (ILT), serta memperkuat jaringan keagenan dan layanan pelabuhan.
WBSA juga akan meningkatkan cross-selling antarsegmen. Dengan semakin besarnya volume yang terkonsolidasi, perseroan dapat memanfaatkan data operasional untuk menentukan kombinasi moda, kapasitas, dan struktur biaya yang lebih efisien. Perseroan turut melanjutkan penggunaan truk listrik pada proyek-proyek tertentu, khususnya untuk pelanggan sektor agrikultur, serta mengeksplorasi pemanfaatan energi surya melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di fasilitas logistik.


















