Tiga Alasan Startup Logistik Masih Bakar Uang

By TransGO 03 Agu 2021, 19:00:00 WIB Opini
Tiga Alasan Startup Logistik Masih Bakar Uang

Startup merupakan perusahaan yang memasuki tahap baru didirikan, dimana mereka perlu untuk terus melakukan pengembangan atau penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Saat ini startup identik dengan hal yang bersifat teknologi  atau sebutan lainnya diikenal tech startup.

Bisnis model pada tech startup memiliki keunggulan dibandingkan dengan non tech startup. Sebab memungkinkan produk atau jasa yang ditawarkan dapat diakses oleh para pengguna dengan mudah melalui jaringan internet. Contoh produk pada tech startup adalah aplikasi game berbayar sedangkan contoh jasa pada tech startup adalah Gojek maupun Uber.

Meskipun demikian, terdapat kelemahan pada bisnis model tech startup yaitu mudahnya suatu sistem untuk ditiru oleh pesaing. Ditambah adanya kemudahan para pengguna untuk berpindah dari satu aplikasi kepada aplikasi lainnya (switching cost).

Baca Lainnya :

Dari keunggulan dan kelemahan bisnis model startup tersebut maka tech startup perlu untuk terus menerus melakukan inovasi dan mempromosikan perusahaan.  Promosi ke para pengguna secara secepat dan sebanyak mungkin sehingga pesaing baru telat untuk mengikuti gerak dan terciptalah “monopoly market”.

Contoh “monopoly market” tech startup adalah mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan Google sebagai search engine atau menggunakan Youtube untuk video streaming. Padahal, terdapat banyak kompetitor yang juga menyediakan layanan serupa tapi karena Google dan Youtube mempunyai inovasi yang jauh melebihi para kompetitornya.

Ketika mayoritas menggunakan layanan tersebut maka para pesaing tidak mampu untuk memenangkan lagi persaingan yang ada. Hal inilah yang menjadi dasar para tech startup untuk terus melakukan bakar uang dengan tujuan dapat mencapai “monopoly market”. Agar bisa memenangkan pasar, maka startup  membutuhkan pendanaan besar.

 Sehingga para founder (pendiri) membutuhkan bantuan dari para angel investor maupun venture capital. Meski demikian, akan menjadi permasalahan apabila terdapat banyak startup yang memasuki suatu industri yang sama atau bahkan startup tersebut menawarkan layanan yang serupa.

Hal tersebut akan menyebabkan satu porsi pasar yang nilai nya sudah tetap akan direbut oleh berbagai tech startup yang ingin melakukan “monopoly market”. Alhasil, terjadilah perang bakar uang dan suatu startup yang memiliki modal yang paling besar akan memenangkan pertandingan.

Para tech startup yang saling bakar uang untuk merebut pasar akan menyebabkan inefisiensi. Seperti halnya yang terjadi pada pasar transportasi Indonesia (Gojek, Grab, Uber) maupun e-commerce (Tokopedia, Shopee, Bukalapak) yang masih merugi hingga saat ini.


Kondisi Terkini Startup Logistik

Saat ini terdapat banyak perusahaan rintisan teknologi (startup) di bidang logistik seperti Waresix, Kargo, Ritase hingga Andalin. Beberapa telah mendapat pendanaan dari puluhan bahkan ada yang ratusan juta Dolar AS.  Sebagian startup logistik di Indonesia masih melakukan bakar uang.

Meski memperoleh pendanaan yang cukup besar, sebagian alokasi pendanaan ditujukan pada pengembangan inovasi layanan platform logistik dan merekrut para sumber daya kompeten. Alokasi dana pendanaan belum dialokasikan secara masif dalam hal promosi besar-besaran seperti yang dilakukan oleh startup pada industri lain yaitu e-commerce, transportasi penumpang, maupun keuangan.

Terdapat 3 hal yang menyebabkan startup logistik di Indonesia masih berfokus pada inovasi dibandingkan promosi secara masif. Pertama, pengguna jasa logistik adalah B2B (Business to Business) yang perlu memiliki pendekatan yang lebih kompleks dibandingkan dengan B2C (Business to Customer) maupun C2C (Customer to Customer).

Kedua, pembayaran termin pada sektor logistik memiliki tempo waktu hingga 1 minggu hingga 2 bulan. Berbeda jika dibandingkan dengan sektor lain yang bisa dipaksa untuk melakukan pembayaran di awal. Ketiga, arus informasi berupa dokumen dan pelacakan status pengiriman yang sering berbeda antara sistem dengan kondisi aktual di lapangan.

Tantangan lainnya, perusahaan logistik konvensional berskala besar punya kemampuan berinvestasi untuk menciptakan system digital inhouse. Atau bisa menggunakan outsource logistics platform dari para vendor lain untuk memberikan layanan digital yang serupa dengan apa yang ditawarkan oleh para startup logistik.

Melihat fakta tersebut, belakangan, sebagian besar perusahaan startup logistik di Indonesia saat ini telah beralih dari penyedia saas logistics management system, quotation bidding, dan logistics marketplace platform menjadi logistics broker (act as third party logistics). Dimana mereka bertindak selayaknya perusahaan logistik saat ini namun dengan digitalisasi.

Tren digitalisasi ini justru akan berimbas kepada perusahaan logistik konvensional skala kecil. Mereka yang memiliki modal dana dan angkutan terbatas akan seiring waktu akan dipusingkan dengan tuntutan dari para customer untuk menggunakan layanan digital dalam hal mempermudah akses informasi dokumen, pelacakan status, hingga pembayaran.

Penulis: Handoyo Prasutiyo **

Foto: Istimewa


** Founder & Chief Executive Officer (CEO) Tera Logistics, merupakan logistics marketplace yang menyediakan logistics directory. Menghubungkan pengirim barang dengan perusahaan logistik berdasarkan spesialisasi (lokasi, jenis kargo, jenis jasa, dan tujuan pengiriman). Kemudian freight rate untuk mempermudah pengirim barang menemukan harga sea/air freight dengan cepat.

Linkedin: https://www.linkedin.com/in/handoyo-prasutiyo

Website: https://www.teralogistics.com




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 11 Komentar untuk Berita Ini

  1. Aplikasi Software Ekpsedisi Barang 04 Agu 2021, 20:34:35 WIB

    Saat ini usaha jasa ekspedisi barang mulai bermunculan, namun tidak sedikit juga pengusaha ekspedisi lama yg mulai redup karena persaingan bisnis yang sangat ketat. Bagi yang memilik modal besar akan bertahan lama dan mampu berkembang.

View all comments

Write a comment