Sengkarut Kemacetan dan Mahalnya Biaya Logistik Tanjung Priok

By TransGO 31 Mei 2021, 15:18:33 WIB Opini
Sengkarut Kemacetan dan Mahalnya Biaya Logistik Tanjung Priok

Pembicaraan tentang pelabuhan Tanjung Priok selalu diisi dengan kemacetan di sana. Pelabuhan terbesar di Indonesia tersebut terkenal sebagai sebuah tempat yang dipenuhi jejeran truk-truk besar pengangkut petikemas yang menyumbat jalan dan menyebabkan antrian panjang yang menimbulkan frustasi pengguna jalan.

 

Tidak hanya pengemudi kendaraan pribadi dan sepeda motor – yang terjepit di tengah kemacetan – tetapi pengemudi truk pun merasakan kondisi frustasi yang sama. Belum lagi ditambah kelelahan akibat kemacetan dan kehilangan peluang mendapatkan penghasilan yang lebih besar.

Baca Lainnya :

 

`        Banyak pendapat yang mengatakan tentang penyebab kemacetan di Tanjung Priok. Beberapa pihak telah berusaha membuat upaya di lapangan untuk mengurai – minimal – mengurangi kemacetan yang terjadi, tetapi predikat lokasi macet masih tetap melekat pada Tanjung Priok.

 

Apa sebenarnya penyebab kemacetan itu? Saya tidak berusaha untuk menjawab itu melalui artikel ini. Akar dari masalah kemacetan itu perlu dilihat melalui perspektif yang lebih luas, sebab kemacetan tersebut tidak pernah disebabkan oleh faktor tunggal.

 

Tanjung Priok sekarang sudah melayani sekitar 7 juta TEUs petikemas setiap tahun, baik untuk perdagangan internasional maupun antar pulau. Hampir seluruhnya dikirim dari wilayah industri di sekitar Jakarta. Seperti semut yang menghampiri gula, truk pengangkut berduyun-duyun menuju Tanjung Priok dari berbagai arah.

 

Memenuhi jalan-jalan dan memadati pintu-pintu masuk pelabuhan.Pintu masuk merupakan salah satu titik rawan penyumbang kemacetan. Teknologi informasi yang dipasang di pintu-pintu masuk terminal tidak selalu dalam kondisi prima.

 

Koneksi jaringan data seringkali terhambat sehingga menyebabkan waktu proses dan verifikasi menjadi lebih lama dan menimbulkan antrian panjang di belakang. Proses bypass sistem tidak disarankan untuk menjaga konsistensi operasi dan pengelolaan data.

 

Akan tetapi, Tanjung Priok adalah pelabuhan yang dibangun di awal abad ke-20, di saat volume barang belum sebesar sekarang dan jenis kendaraan angkut belum seperti sekarang. Dengan volume saat ini, infrastruktur jalan di lingkungan pelabuhan sangat tidak memadai. Begitu juga jalan-jalan di sekitar pelabuhan.

 

 Dengan tambahan kondisi jalan berlubang dan bercampurnya truk dengan kendaraan kecil lainnya, kecepatan truck menjadi sangat berkurang. Imbasnya adalah truk menjadi penghambat kendaraan di belakangnya sehingga antrian panjang menjadi tidak terelakkan.

 

 

Akses Jalan ke Pelabuhan Sempit

 

Jika di jalan yang sempit tersebut terdapat pintu-pintu depo petikemas, hambatan menjadi lebih besar. Tidak semua depo dioperasikan dengan dukungan sistem yang rapih, baik itu penyimpanan, penumpukan, maupun pencarian petikemas.

 

Umumnya depo-depo di sekitar Tanjung Priok dibangun dan dioperasikan di atas lahan yang terbatas, sehingga aktivitas di dalamnya bisa menyebabkan hambatan yang akan mengimbas ke luar, ke jalanan, dan ke lingkungan sekitarnya berbentuk kemacetan panjang.

 

Jalan raya di sekitar Tanjung Priok umumnya hanya terdiri atas dua lajur. Hambatan di lajur kiri (entah itu berupa antrian truk ke depo maupun ke pintu pelabuhan) dengan mudah bisa menyumbat kelancaran arus lalu lintas di jalur tersebut. Di hari yang sibuk, satu lajur yang tersisa tidak akan mampu dengan baik menampung seluruh pergerakan kendaraan.

 

Ditambah lagi jika tidak ada pengaturan lalu lintas oleh petugas, dijamin jalur tersebut semakin ruwet.Kebijakan pengelolaan terminal juga bisa menjadi faktor penyebab macet atau tidaknya jalan-jalan di dalam pelabuhan. Harap diingat bahwa kemacetan di luar pelabuhan merupakan buntut dari kebuntuan yang terjadi di dalam area pelabuhan.

 

 Salah satu penyebab kemacetan di Tanjung Priok bisa disebabkan oleh kebijakan peningkatan tarip penumpukan di lapangan penumpukan petikemas (container yard).Selama ini biaya penumpukan petikemas di pelabuhan dinilai jauh lebih murah dibandingkan di luar, seperti depo misalnya.

 

Lapangan penumpukan petikemas yang disediakan sebagai sarana penampungan sementara petikemas pun berubah fungsinya sebagai tempat penyimpanan jangka panjang. Petikemas dibiarkan agak lama di dalam terminal sampai barang-barang yang berada di dalam petikemas tersebut diperlukan untuk sebuah kepentingan produksi atau perdagangan.

 

Pengelola Tanjung Priok telah mengubah kebijakan taripnya sehingga biaya penumpukan petikemas di dalam pelabuhan menjadi lebih mahal dibandingkan di luar. Terlebih dengan adanya tarip penumpukan progresif. Semakin lama ditumpuk, semakin berlipat mahalnya. Pengusaha tentu tidak mau rugi.

 

Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menyiasati biaya yang menjadi lebih tinggi ini?Hal paling logis yang dapat dilakukan adalah tidak menumpuk petikemas di dalam terminal. Petikemas langsung dijemput dengan truk begitu dibongkar dari kapal dan dibawa keluar dari pelabuhan menuju depo atau gudang, atau lokasi penimbunan sementara yang ditentukan.

 

Menumpuk di luar pelabuhan sekarang dinilai lebih murah. Di jaman sulit seperti ini, pengelolaan biaya yang efektif agar tetap hemat menjadi sangat penting.Kegiatan pemuatan petikemas pun demikian. Petikemas yang akan dimuat langsung dikirim dari pabrik atau depo ke dermaga tanpa harus ditumpuk.

 

Pemilik barang akhirnya menyesuaikan waktu pengisian petikemas dengan jadwal kedatangan kapal. Waktunya sangat mepet, sehingga ratusan truk pun berduyun-duyun antri di terminal, menanti giliran untuk dilayani.Meskipun praktek seperti ini hanya bisa dilakukan pada kapal petikemas antar pulau, dan volume petikemas antar pulau di Tanjung Priok tidak sebesar internasional, tetapi jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu petikemas.

 

 Apalagi jika setiap hari ada kapal petikemas antar pulau bersandar di Tanjung Priok, dan semuanya melakukan pola seperti ini. Alhasil pelabuhan akan dipadati truk yang menciptakan antrian sangat panjang.Pola truck lossing dipastikan menghasilkan produktivitas bongkar muat yang rendah.

 

Fungsi lapangan penumpukan sebagai penyangga yang bisa mendongkrak produktivitas menjadi tidak berjalan. Terlihat bahwa kemacetan juga bisa terjadi dari akibat hadirnya sebuah kebijakan atau perubahannya. Sehingga, jika diperhatikan dengan seksama, akar kemacetan tersebut tidak lah melulu berupa masalah operasional.

 

Tetapi jauh lebih dalam dari itu. Masalah operasional terkadang merupakan akibat dari hal lain di sekitarnya.Seperti yang disampaikan di awal, tulisan ini tidak bermaksud untuk mengambil kesimpulan.

 

Saya lebih suka mengajak pihak-pihak yang berkepentingan untuk mencoba melihat persoalan ini dengan perspektif lebih luas (operasional, infrastruktur, peralatan, kebijakan, teknologi, dan lainnya) sehingga bisa diperoleh solusi yang lebih efektif dan permanen. Aktivitas pelabuhan memang tidak bisa dipungkiri memberikan dampak kepada masyarakat dan wilayah. Tetapi, tentunya bukan dampak negatif yang kita harapkan.

 

 

Teks: Adrian Syahminur **

Foto: Isitmewa

 

 

**

Praktisi Kepelabuhanan sekaligus Manajer Komersial PT Terminal Petikemas Indonesia.

Lulusan Pasca Sarjana World Maritime University di Malmo, Swedia

 

Linkedin: https://www.linkedin.com/in/adriansyahminur/

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment