Penerapan Tyre Management System pada Ban Truk Vulkanisir

By TransGO 26 Nov 2021, 18:26:27 WIB Opini
Penerapan Tyre Management System pada Ban Truk Vulkanisir

Ban dalam bisnis angkutan barang merupakan komponen terbesar kedua setelah biaya bahan bakar minyak (BBM). Dibutuhkan sebuah pengelolaan yang efektif dan efisien agar target cost per kilomer yang diharapkan transporter tak tinggi. Umumnya sebagian besar transporter menerapkan Tyre Management System (TMS), sebuah sistem manajemen yang terintergrasi dalam ruang lingkup optimalisasi penggunaan ban.

          Mencakup perencanaan, pengorganisasian, penggunaan dan pengendalian umur pakai ban yang maksimal. Tujuannya, demi menunjang operasional armada dalam menjalankan bisnis angkutan sekaligus pencegahaan menghindari insiden di jalan. TMS memberikan rekomendasi mulai dari patern ban yang sesuai dengan kondisi medan yang dilewati. Memiliki target memperpanjang umur pakai dan pergantian ban yang tepat waktu sehingga dapat divulkanisir.

          Penerapan TMS harus sesuai prosedur pemeliharaan ban yang tercatat dalam laporan berformat Key Perfomance Indicator (KPI) ban. Pada laporan tersebut terekam semua kegiatan pemeliharaan, mulai rotasi ban, tekanan udara serta pengukuran kembang ban. Laporan yang terekam juga mencakup ketersediaan ban cadangan guna memastikan semua kendaraan bisa beroperasional tanpa terganggu kekurangan stok ban.

Baca Lainnya :

Namun, banyak salah kaprah tentang TMS. Bagi banyak orang TMS itu hanya sekedar ganti ban dan pasang ban, itu salah. Padahal tidak ada monitoring yang jelas, seperti kapan itu dipasang, kapan harus dirotasi, tekanan anginnya berapa. Mereka tidak mengerti, karena masih mengandalkan pengalaman dan belum teruji.

Penerapan TMS idealnya dimulai dari pertama kali ban baru digunakan sampai ban tersebut sudah tak layak pakai. Pengusaha trucking ketika menerapkan TMS harus memperhatikan tiga hal, seperti suplai ban baru, ban vulkanisir dan perawatan armada. Dalam pengadaan ban baru dan vulkanisir, transporter harus cermat dalam memilih ban dengan mengutamakan usai pakai lebih lama, sehingga mendapatkan cost per kilometer yang rendah.

Pada proses pemeliharaan, jika ditemukan kondisi ban yang tidak dapat dipergunakan perlu dianalisis dahulu. Guna memastikan kerusakan merupakan kondisi normal atau ban tersebut mengalami kerusakan tidak wajar. Untuk kondisi tersebut maka harus dilakukan proses garansi yang dimintakan ke vendor penyuplai ban. Sementara, ban dengan kerusakan normal pun perlu dianailisis guna dapat dilakukan langkah pencegahan secara cepat.

Kemudian, pada proses tersebut transporter perlu memastikan umur pakai setiap merata. Tidak ada ban yang ketika umur pakainya habis mengalami permukaan gelombang atau hanya habis sisi samping tapak bannya saja. Sebab kemiringan ban atau kendaraan sekitar 1 milimeter saja dapat memperboros konsumsi ban kurang lebih 6% sampai 7% dari konsumsi seharusnya.

 

Kontribusi Ban Vulkanisir

Semua kegiatan tersebut dapat diimplementasikan dengan baik apabila didukung sumber daya manusia yang kompeten. Ditunjang pula infrastruktur yang memadai dilengkapi peralatan serta fasilitas lainnya yang sesuai standar TMS. Kemudian, perlu perencanaan anggaran pemeliharaan sebagai acuan kerja sekaligus memberikan target-taget yang harus dicapai.

Rencana anggaran berguna pula sebagai tolak ukur sebagai alat pembanding untuk mengevaluasi realisasi pengadaan ban. Sekaligus sebagai alat untuk mengkoordinasikan kerja agar semua divisi kerja bisa saling menunjang, saling bekerja sama dengan baik. Budget tersebut dihitung mulai dari kebutuhan harian, mingguan dan bulanan.

Diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan ban berdasarkan jumlah armada ban. Melalui pengumpulan data dan informasi lalu mengolahnya hingga tersusun menjadi rencana anggaran. Selanjutnya, setelah tersusun dikoordinasikan ke pihak pelaksana teknis TMS.

TMS yang benar itu harus accept target. Misalnya, cost per kilometer pengusaha trucking katakanlah Rp. 60 atau budget per tahunnya Rp.1 miliar. Dengan perhitungan kilometer yang sama dan fleet yang sama, berani tidak  pihak  vendor TMS memberi  jaminan tahun depan biayanya lebih rendah. Jika  memang mereka  punya produk yang tepat, saya yakin mereka  berani,

Agar tercapai semua target tersebut, laporan Key Perfomance Indicator (KPI) ban memiliki fungsi mengukur tingkat keberhasilan kinerja ban dan manajemen pengelolalaannya.  Beberapa KPI yang perlu diutamakan, antara lain pencapaian umur ban dan presentase penggunaan tread sesuai ukuran ban.

Selanjutnya, pencapaian kuantitas frekuensi pengecekan tekanan angin sesuai ukuran ban. Pencapaian presentase ban yang discrap dengan umur paki di bawah umur pakai yang ditargetkan.Pencapaian perbandingan down time ban sesuai jadwal dan tidak sesuai jadwal. Terakhir, pencapaian perbandingan cost atau revenue actual dengan cost atau revenue budget.

Pengamatan saya, semua merek dagang global di luar negeri, umumnya menyediakan TMS. Hanya saja dalam operasional dan praktiknya pihak pabrikan akan bekerjasama dengan distributor. Sementara di Indonesia, setidaknya hanya empat perusahaan penyedia TMS yang melakukan TMS sesuai standar dan prosedur.

Setidaknya setiap tahunnya, pihak penyedia TMS bisa menjamin biaya operasional ban transporter bisa ditekan sampai 10% dari tahun ke tahun. Mengingat adanya kenaikan harga ban yang tiap tahun naik berkisar 6% sampai 8%. Untuk itu ban vulkanisir bisa mengambil peran yang besar dalam penerapan TMS ini karena bisa hemat lebih besar.

Abvindo sendiri  menargetkan penggunaan vulkanisir ban di sektor angkutan barang di Indonesia bisa mencapai 60% ketimbang ban.baru. Sejauh ini rata- rata penggunaan ban vulkanisir di perusahaan angkutan barang masih masih berkisar 30% sampai 40%. Diharapkan penggunaan ban vulkanisir yang meningkat dapat semakin menekan biaya operasional transporter mengingat komponen ban menempati urutan kedua setelah bahan bakar  sebagai komponen pengeluaran terbesar.

Diketahui 70% nilai harga dari sebuah ban berada pada casing (rangka ban yang keras dan kuat untu menahan tekanan beban) dan hanya 30% berada pada pada tapak ban. Secara operasional, artinya pengusaha angkutan hanya menggunakkan 30% saja dari keseluruhan material ban yang habis terpakai. Sehingga dengan tidak melakukan vulkanisir ban perusahaan diklaim melakukan pemborosan sebesar 70% dari harga ban tersebut.

Kalau misalnya kita sudah tahu jadwal penggantian ban berikutnnya, artinya kita gantikan saja gantikan dengan ban vulkanisir. Bahkan kalau misallkan kita mendapatkan casing ban dari pemilik armada, casing ini kita proses lalu kita gantikan ke posisi ban yang masih pakai ban orisinal. Terus  ban orisinal tersebut kita copot sebagai cadangan untuk armada yang memang membutuhkan ban orisinal di kemudian hari.

 

 

Teks: Emiel Purwana ***

Foto: Istimewa

 

***

Emiel Purwana menjabat  Ketua Umum Asosiasi Ban Vulkanisir Indonesia (Abvindo) sejak 2019. Ia merupakan Owner PT Paderona Arthajaya, perusahan penyedia jasa ban vulkanisir dan Tyre Management System (TMS).

 

Linkedin : https://www.linkedin.com/in/emiel-purwana-6675557/?originalSubdomain=id

No. HP : 0812 1072 464




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment