Investigasi Kecelakaan Bus Pariwisata Ciamis, 80% Kasus Rem Blong Terjadi di Jalan Turunan

By TransGO 24 Mei 2022, 15:57:42 WIB Transportasi
Investigasi Kecelakaan Bus Pariwisata Ciamis, 80% Kasus Rem Blong Terjadi di Jalan Turunan

Sejak Minggu (22/05) Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah memulai investigasi kecelakaan bus pariwisata maut di Jalan Panumbangan – Panjalu tepatnya Kampung Pari, Dusun Paripurna, Desa Payungsari, Kecamatan Panumbangan, Ciamis,. Diketahui, bus baru saja berjalan dua menit dari lokasi destinasi wisata terakhir yang dikunjungi.

Kemudian, 300 meter menjelang titik tabrakan pengemudi mengalami kepanikan ketika kendaraan hilang kendali. Sementara terkait medan jalan, mulai  titik berangkat sampai lokasi tabrakan berjarak 2,3 kilometer dengan gap ketinggian 219 meter. Kondisi tersebut, terlebih ketika turunan akan memberi daya dorong besar terhadap kendaraan.

Dari serangkaian kronologi tersebut yang berdampak pada rem blong, dugaan awal KNKT mengarah pada human eror. Terutama dugaan kelalaian pengemudi ketika di turunan menggunakan gigi tinggi. Hal ini diperkuat dari data KNKT, bahwa sekitar 80% kasus rem blong bus dan truk terjadi di jalan turunan.

Baca Lainnya :

Sebab, penggunaan rem di jalan turunan dipastikan akan berlipat ganda ketimbang di jalan datar. Kondisi ini kemudian berpotensi menimbulkan overheat, kehabisan angin rem atau minyak rem mendidih. Ketiganya menjadi penyebab utama kegagalan rem atau rem blong.

Bus kecelakaan tersebut sendiri menggunakan full air brake system. KNKT menduga khusus peristiwa ini disebakan dua kemungkinan, yakin angin tekor dan brakefading. Cara satu-satunya agar kesalahan di atas bisa dihindari adalah menggunakan gigi rendah ketika di turunan.

Mengingat, dalam situasi genting tersebut pengemudi ketika sudah menggunakan gigi rendah masih bisa memanfaatkan engine brake dan exhaust brake. Sehingga, laju kendaraan sedikit bisa dikendalikan dan menimalisir dampak tabrakan.

 

Berikut penjelasan teknis kondisi kendaraan besar seperti bus dan truk ketika melintas di jalan turunan:

1. Pada saat kendaraan bergerak di jalan datar yang memutar roda menciptakan energi kinetik adalah mesin. Jadi saat direm mesin melambat maka pengereman efektif.

2. Pada jalan menurun, yang memutar roda kendaraan dan menciptakan energi kinetik adalah energi potensial.  Jadi saat pengemudi mengerem maka begitu rem diangkat roda akan bergerak lagi karena pengereman hanya bisa menghilangkan energi kinetik sesaat. Namun tidak energi potensialnya, sehingga memaksa pengemudi melakukan pengereman berulangkali.

3. Saat pengemudi menginjak pedal rem, dan roda melambat, terdapat gesekan antara kampas dan tromol, dan gesekan itu menyebabkan panas. Jika panasnya melampaui ketahanan panas kampas, maka akan terjadi peristiwa sublimasi yaitu perubahan bentuk dari padat menjadi gas panas.

Dan pada rem tromol gas panas itu terjebak di dalam ruang dan berada diantara kampas dan tromol sehingga kampas tidak menempel ke tromol, yang dirasakan pengemudi kampas menjadi licin sempurna. Fenomena ini disebut brakefading atau rem yang hilang.

4. Fenomena brakefading ini tidak terjadi pada mobil kecil, karena mobil kecil menggunakan rem cakram, sehingga gas panas itu akan hilang langsung keluar.

5. Rem blong pada rem cakram yang terjadi bukan karena brakefading, melainkan panas pada cakram akan merambat ke silinder rem yg didalamnya ada minyak rem. Saat silinder rem panas dan minyak rem didalamnya mendidih, maka akan muncul gelembung udara yang akan mengisi ruang silinder.

Dan saat pengemudi menginjak rem maka yang mendorong cakram bukan lagi minyak melainkan angin kosong. Peristiwa ini disebut angin palsu atau vapour lock.

6. Agar minyak rem tidak cepat mendidih, harus menggunakan DOT yg sesuai dan rajin menggantinya, jnagn sampai mengandung air. Jika dalam minyak rem terdapat 3% saja air maka titik didihnya turun 50' celcius, dan ini berbahaya karena minyak rem yang cepat mendidih akan mengakibatkan rem blong

 

Oleh karena itu, ketika berada di jalan turunan gunakan gigi rendah. Kalau RPM sudah naik maka dibantu menginjak rem. Ingat hukum thermodinamika 1, energi tidak dapat dihilangkan dan hanya berubah bentuk, jadi energy kinetik tersebut dirubah menjadi energi panas saat dilakukan pengereman.

Rumus energi kinetik 1/2 massa kali kuadrat kecepatannya, artinya jika kecepatannya rendah maka energi kinetiknya rendah sehingga energy panas yang dihasilkan saat mengerem juga kecil. Jadi, gigi rendah adalah untuk mengecilkan kecepatan agar energi panas yang dihasilkan saat mengerem menjadi kecil untuk mengurangi resiko rem blong.

Para pakar sering keliru menyebutkan bahwa saat terjadi pengereman berkali kali, kampas menjadi panas dan menjadi licin. Sebenarnya kampas tidak pernah menjadi licin, yang menyebabkan licin bukan kampasnya melainkan adanya gas panas.

Jika pengusaha mau membeli kampas rem non asbestos yang terbuat dari serat kevlar dan steel dan memiliki ketahanan panas hingga 450' celcius. Maka brakefading juga tidak akan terjadi karena panas pada kampas akan disalurkan melalui sepatu rem untuk dibuang ke luar.

 Kampas jenis ini mengandung metal yg tinggi sehingga cepat membuang panas keluar. Saat ini yang beredar di pasaran adalah kampas jenis asbestos yang lebih murah, terbuat dari asbes. Asbes memiliki ketahanan panas 250' celcius, dan karena non metal maka panas yang muncul ditanggung dia sendiri dan tidak disalurkan ke sepatu rem. Ini yang menyebabkan kampas jenis ini sering kali menyebabkan rem blong.

 

 

Teks: Ahmad Wildan ****

Foto: Istimewa

 

***

Lulusan Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal. Hampir 30 tahun berkarir di Kementerian Perhubungan dengan beragam jabatan strategis. Sejak 2016 aktif terlibat dalam investigasi banyak kecelakaan mewakili KNKT.

 

Facebook: Wildan KNKT

No HP: 0813 4130 3033




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment