Infrastruktur Penunjang Distribusi Vaksin Covid-19 Masih Banyak PR

By TransGO 28 Jul 2021, 15:00:00 WIB Wawancara Eksklusif
Infrastruktur Penunjang Distribusi Vaksin Covid-19 Masih Banyak PR

Pemerintah menggencarkan program vaksinasi Covid-19 untuk mencapai target minimal 70% dari total populasi penduduk Indonesia guna menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), baru 44,6 juta penduduk yang telah divaksinasi.

Jumlah itu setara dengan 16,5% dari total penduduk Indonesia yang sebanyak 270,2 juta jiwa pada 2020. Sementara vaksinasi kedua sebanyak 17,9 juta penduduk atau 6,6% dari populasi. Beragam tantangan yang dihadapi pemerintah termasuk dari sisi kegiatan distribusi vaksinnya.

Menurut Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), dengan kondisi infrastruktur yang ada paling realistis target vaksinasi 70% tersebut baru terlaksana akhir tahun 2022. Lantas apa yang melatarbelakangi ARPI menyatakan hal itu

Baca Lainnya :

 

Berikut petikan wawancara eksklusif TransGO bersama Hasanuddin Yasni, Ketua Umum ARPI:

 

1.    Bagaimana ARPI melihat distribusi vaksin Covid-19 sejauh ini, ada evaluasi?

Soal distribusi vaksin kami melihat yang jadi masalah adalah pada tahap middle mile ke last mile . Karena dari produsen vaksin ke middle mile, atau ke ibukota Provinsi itu sudah dilengkapi dengan monitoring suhu dan GPS Tracker. Sementara dari ibukota Provinsi ke Kabupaten itu perlu persiapan lebih lanjut.

Terutama menyiapkan logistik berpendingannya yang ukuran lebih kecil. Sebab kebutuhannya pun untuk tingkat Kabupaten tidak begitu banyak, jadi diperlukan infrastruktur logistik yang lebih kecil. Diantaranya seperti truk berpendingin berkapasitas 500 kilogram 1 ton, 2 ton sampai 4 ton.

Sementara untuk di Indonesia bagian Timur, diperlukan mungkin sepeda motor dilengkapi cool box sehingga suhu vaksin tetap termonitor. Hanya saja yang jadi masalah, bagaimana digitalisasi monitoring pada kendaraan yang lebih kecil. Walaupun sebenarnya teknologi monitoring khusus cool box sudah ada, cuma mungkin karena mahal akhirnya tidak digunakan.

 

2.    Soal Bio Farma yang diberi tugas dalam distribusi vaksin, apakah ARPI ada catatan khusus?

Selama ini Bio Farma memang sudah melakukan fasilitasi truk berpendinginnya yang bisa menjangkau minimal ke ibukota Provinsi. Tapi di Provinsi itu sendiri tidak semuanya memiliki fasilitas mini storage yang digunakan untuk menyimpan sementara waktu.

Maka dari itu, kami mengusulkan adanya penyewaan truk berpendingin dan kontainer berpendingin di masing-masing Kabupaten. Gunanya sebagai transit dan penyimpanan sementara hingga 1 sampai 2 bulan ke depan. Fasilitas ini menjadi kunci jika memang pemerintah ingin gencar melakukan vaksinasi.

 

3.    Secara resmi apakah ARPI turut dilibatkan dalam proses distribusi vaksin?

Keberadaan ARPI sekedar sumbang saran ke pemerintah, beberapa kali melakukan zoom meeting dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan. Misalnya, dengan Dirjen Perhubungan Darat, ARPI sumbang saran bagaimana distribusi di daerah-daerah terpencil melalui pesawat udara.

Dimana dibutuhkan bandar udara yang bisa langsung mensuplai dalam waktu pendek, walaupun jadwal penerbangannya terbatas dua minggu sekali. Itu yang sudah ARPI berikan sumbang sarannya ke pemerintah.

Terkait esekutornya, sepenuhnya diserahkan ke Bio Farma dan Groupnya, ada Indofarma, Kimia Farma. Mereka kemudian berbagi tugas untuk diteruskan ke member-membernya ARPI, seperti MGM Bosco Logistic dan Kiat Ananda.  atau EasyGO GPS untuk monitoring armada dan suhunya.

 

4.    Persisnya apa yang sudah dikerjakan member-member ARPI yang kebetulan dilibatkan langsung?

Seperti MGM Bosco Logistics sudah mengesekusi order dari Indofarma untuk mendistribusikan vaksin di Jawa. Sumatera dan Sulawesi Selatan. Sedangkan Kiat Ananda memfasilitasi beberapa kontainer berpendingin di level Provinsi yang memang tidak mempunyai cold storage.

Terutama di Indonesia Timur, seperti di Maluku, Papua, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur. Serta ada kemungkinan untuk kolaborasi penyediaan sepeda motor  membawa cool box untuk proses last milenya.

 

5.    Artinya pada tahap last milenya masih jadi pekerjaan rumah?

Benar, untuk last mile di Indonesia Timur memang masih ada tantangan. Beda dengan di pulau Jawa yang secara infrastruktur sudah memadai.

 

6.    Dari beragam jenis vaksin Covid-19 yang sudah beredar di Indonesia, jenis vaksin apa yang punya tantangan tersendiri dalam distribusi?

Jenis vaksin yang agak sulit itu Pfizer agak sulit penanganan distribusinya, mengingat suhu penyimpanan harus -70 derajat celcius. Sebenarnya Pfizer kalau disimpan di suhu -30 derajat celcius itu masih bisa tahan seminggu. Tapi memang ini menjadi pekerjaan rumah khususnya jika distribusinya di daerah-daerah terpencil.

Hanya bisa menjangkau daerah seperti Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur atau daerah yang sudah memiliki cool box yang bisa menyimpan -70 derajat celcius ditambah dry ice. Itu bisa tahan sampai 36 jam, tapi efektifnya hanya 30 jam karena seringnya cool box dibuka tutup.

Bisa dibayangkan dengan durasi 36 jam tersebut, tentu hanya mampu  untuk pulau Jawa saja. Di luar itu seperti, Sumatera atau daerah lain cukup berat.

 

7.    Apa kita tidak punya kemampuan untuk membangun fasilitas cold storage yang dibutuhkan?

Kita sebenarnya sudah mampu membuat fasilitas penyimpanan khusus -70 derajat celcius. Seperti yang ada di Bitung dan beberapa pulau di Indonesia Timur itu sudah ada cold storage -70 derajat celcius tapi itu khusus diperuntukan untuk pembeli Jepang, yaitu untuk sasimi. Mereka perlu benar-benar ikan yang dibeli segar, setelah ditangkap langsung didinginkan.

Kita mampu buat fasilitas seperti itu dengan kapasitas sampai 50 ton. Tapi yang ada di Bitung sudah dibooking Jepang untuk produk mereka. Dan namanya perikanan dan vaksin tidak boleh bercampur, harus terpisah penyimpanannya.

Kalau memang nanti ada permintaan dari pemerintah, kita pastikan mampu buat. Karena kapasitas untuk penyimpanan vaksin sendiri tidak besar juga, mampu kita. Hanya memang untuk membangun fasilitas ini lebih mahal ketimbang cold storage biasa. Bisa lebih mahal sekitar 50%..

 

8.  Soal target percepatan vaksin pemerintah bisa tercapai 2022, apa itu realistis dengan infrastruktur logistik yang ada?

Yang pasti tidak bisa tahun ini, dengan hitungan 70% warga Indonesia yang harus divaksin itu artinya kita butuh 360 juta dosis vaksin. Andai pun pemerintah bisa melakukan vaksin 1 juta orang per hari, itu pun butuh waktu setahun untuk mencapai angka itu.

 Dengan catatan memang sesuai target dan tidak hambatan.Terutama jika infrastruktur logistiknya belum merata di banyak daerah, seperti di Indonesia Timur. Kami pikir baru bisa tercapai atau semua warga tervaksin baru akhir tahun 2022.

 

9.    Lalu apa saja yang perlu dibenahi pemerintah agar target vaksinasi tercapai?

Pemerintah harus benahi infrastruktur yang diperlukan. Karena kita tidak mau vaksin ini pasti ada penyusutannya sama halnya produk frozen food. Makanya infrastruktur yang memadai penting untuk menghindari risiko itu.

Kedua, soal data kependudukan, itu harus terintegrasi agar tidak tidak ada kerancuan di lapangan. Dan semua itu harus dikolabborasikan, tidak bisa pemerintah atau BUMN bekerja sendiri.

 

Teks: Redaksi

Foto: ARPI

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment